1984: Dua Ditambah Dua Sama Dengan Lima
Mimpi terburuk yang selalu hinggap di setiap individu adalah terkurung secara fisik atau psikis. Bayangkan bagaimana menderitanya ketika orang-orang hidup pada masa di mana segala sesuatu hal diatur oleh manusia lain yang memiliki jabatan tertinggi di sebuah negara? Itulah yang dialami Winston Smith, lelaki paruh baya yang anehnya tidak ingat apa-apa tentang masa lalunya selain kenangan buruk kepergian ibu dan adiknya. Di negara itu, segala sesuatu dipantau oleh pemimpin negara bernama Bung Besar. Jangan harap kau bisa bernyanyi, menonton komedi situasi, atau memiliki akun sosial media sesuka hati. Jika ada seorang warga yang melakukan satu atau dua hal tersebut, bisa dipastikan ia akan diseret ke penjara, atau mungkin lebih buruk, dihilangkan dari peradaban.
-
Winston Smith sudah tidak tahan dengan keadaan di negeri itu. Ia ingin bebas, sebebas ia dapat mengatakan jika dua ditambah dua sama dengan empat. Namun, ia hanya karyawan biasa di Departemen Catatan, yang bertugas mengubah dan membuang fakta-fakta yang kiranya tidak sesuai dengan keinginan Bung Besar. Winston merasa muak melakukan segalanya demi kepentingan pemerintahan. Winston muak akan teleskrin yang ada di kamarnya untuk memantaunya 24 jam sehari. Winston muak akan kehadiran Polisi Pikiran yang dapat membaca pikiran-pikiran buruk yang secara spontan kerap hadir di benaknya. Winston muak akan program Dua Menit Benci yang ada setiap sore di kantornya, lalu ia dan seluruh manusia di negeri itu harus meluapkan emosi dan kebenciannya kepada seorang pemberontak bernama Emmanuel Goldstein, yang bahkan Winston tidak yakin Emmanuel Goldstein benar-benar ada atau pernah ada. Di negeri itu, siapapun dan apapun bisa ditiadakan atau dijadikan ada. Bung Besar yang mengaturnya. Hingga Winston bertemu Julia, gadis muda yang memiliki gejolak jiwa pemberontak.
-
Buku ini menghadirkan sisi gelap dan tragis dalam sebuah dunia politik. Istilah "kawan bisa menjadi lawan" dalam politik menjadi sangat remeh saat membaca buku ini. Karena ternyata ada yang lebih besar daripada itu, bahwa "dua ditambah dua sama dengan lima" bisa saja menjadi kebenaran absolut jika sebuah partai besar menginginkannya. Seberapa kerasnya kau berpikir bahwa "dua ditambah dua sama dengan empat", tidak akan pernah bisa menyelamatkan atau mengangkat derajat hidupmu jika partai menginginkan "dua ditambah dua sama dengan lima". Tak heran, 1984 menjadi novel abadi sejak kemunculannya 70 tahun silam. Yang ditakutkan George Orwell pelan-pelan terpampang jelas satu persatu: mulai dari perang tak kunjung usai, tersebarnya berita palsu, konspirasi, propaganda, dan yang sangat akrab di kalangan manusia era kini: pantauan 24 jam dari orang-orang tak dikenal.
-
Orwell menulis 1984 pada tahun 1944, ketika ia menulis surat tentang Hitler dan Stalin, serta tentang kengerian akan nasionalisme emosional yang menekan orang-orang untuk tidak percaya akan kebenaran, karena kebenaran absolut hanya ada di tangan führer.
-
Make Orwell fiction again.
-
Judul: 1984.
Penulis: George Orwell.
Penerjemah: Landung Simtupang.
Penerbit: Bentang Pustaka.
Halaman: 400 halaman.
Comments
Post a Comment