Tsukuru Tazaki: Yang Tenggelam di Dasar Laut Dingin Bernama Sepi

Membaca dari sinopsis yang ada di belakang cover tidak membuat saya menjadi sangat penasaran dengan jalan cerita seutuhnya. Sesungguhnya hal-hal seperti ditinggal sahabat, disingkirkan, dijauhkan, dan hal-hal nelangsa lain dalam lingkup sosial adalah hal lazim yang terlihat di Jepang. Umumnya, remaja-remaja di sana memiliki satu hal yang lebih berat ketimbang kesedihan, yaitu kesepian.


-

Itulah yang dialami Tsukuru Tazaki, tokoh utama buku ini. Ia dengan sangat tiba-tiba menjadi orang paling murung dan enggan hidup sedunia karena keputusan para sahabatnya yang tidak ingin bertemu atau berhubungan lagi dengannya. Syok? Tentunya. Bagi Tsukuru, dunianya hanya dia dan keempat sahabatnya. Merekalah alasan Tsukuru tetap hidup, menjalani, dan menikmatinya. Namun entah karena apa, keempat orang itu memutus hubungan dengan Tsukuru secara tiba-tiba dan tanpa penjelasan. Tsukuru berpikir, Ia tidak melakukan apa-apa yang kiranya menyinggung hati keempat sahabatnya. Apa kesalahannya sehingga mereka dengan mudah menutup segala koneksi dengan Tsukuru. Ia merasa tenggelam ke dasar laut yang sangat dingin, sementara kapal yang tadi Ia naiki bergerak maju tanpa ragu.

-

Setelah mencoba sekuat tenaga mengubur dan menutup luka dalam itu. Tsukuru menjalani hidup yang lurus-lurus saja. Satu-satunya kegiatan favoritnya adalah membuat stasiun, yang juga menjadi sumber penghasilannya. Tsukuru suka stasiun. Ia kerap pergi ke stasiun dan hanya duduk di sana memandangi orang lalu lalang. Baginya, stasiun adalah tempat Ia pulang setelah Ia tak punya lagi sahabat di kampung halamannya. Ialah Tsukuru Tazaki, laki-laki yang tidak punya tempat untuk pulang. Tidak punya tujuan. Hingga akhirnya Ia bertemu Sara. Gadis cerdas yang berusia dua tahun diatasnya. Sara meminta Tsukuru menggali kembali masa lalunya. Membuka kembali luka yang sudah melepuh di dalam dadanya. Tsukuru harus tau apa alasan keempat sahabatnya meninggalkan Tsukuru dan menjadikannya mayat hidup semenjak itu.



-

Buku ini adalah buku pertama Murakami yang saya baca. Ternyata Murakami teramat detil dan surealis. Unsur gelap dan mimpi buruk selalu ada di tiap lembarnya. Murakami menunjukkan perjuangan berat yang amat sangat seorang Tsukuru dengan gaya bahasa yang sangat sastra. Buku ini bukan sekedar cerita. Jika dilihat dari teropong ke-masuk akal-an, maka buku ini pasti masuk kategori buku membosankan. Apalagi untuk kaum realis yang tentunya akan menampar wajah Tsukuru sambil bilang untuk apa sekarat begitu demi memikirkan keempat sahabatnya? Cari saja yang lain! Atau balas dendam mungkin lebih baik! Tapi tidak semudah itu ternyata. Tsukuru kehilangan jiwanya sejak keempat sahabatnya meninggalkannya tanpa pesan. Dan bagi mereka yang kehilangan jiwa, bertahan hidup saja bukan pilihan, apalagi membalas dendam atau mencari pengganti. Rasanya mati jauh lebih baik daripada sepi.

***

Judul: Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya.
Penulis: Haruki Murakami.
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun: 2018
Halaman: 345 halaman.

Comments

Popular posts from this blog

Laki-Laki yang Kawin dengan Peri dan 16 Cerita Pendek Lainnya di Tahun 1995

lady in action

It's Cormoran Strike era!