Review: Kambing dan Hujan: Sebuah Roman
Kambing dan Hujan: Sebuah Roman by Mahfud Ikhwan
My rating: 4 of 5 stars
Sedikit menyesal ketika buku ini sempat saya tunda untuk dibaca. Ternyata, sesuai ulasan orang-orang di luar sana, buku ini punya daya tarik sendiri. Kisah cinta yang gak biasa, persahabatan Bapak-Bapak kolot yang mengharukan, dan cara pandang seseorang terhadap sebuah keyakinan. Membaca buku ini auranya sama seperti membaca buku-buku Tere Liye, tapi Mahfud Ikhwan membuatnya lebih sederhana dan mengalir.
**
Cerita dibuka dengan kegundahan muda-mudi yang ingin menyempurnakan separuh agama dengan menikah, tetapi terbentur karena beda keyakinan. Bukan, bukan beda agamanya. Tapi, beda keyakinan terhadap Islam. Si perempuan tumbuh di lingkungan Islam Tradisional yang masih sangat menghargai budaya dan kearifan lokal. Si laki-laki dibesarkan dengan sudut pandang yang sangat berbeda, Ia tumbuh di keluarga yang teguh mendirikan Islam Pembaharu tanpa mencampuri budaya setempat. Padahal, tujuan keduanya sama, menganut Tuhan yang sama, dan tentunya, Nabi yang sama. Tapi, semua itu sudah terjadi sejak tahun ‘60an. Tahun di mana Bapak-Bapak mereka masih menuntut ilmu di usia belasan.
**
Bapak Kandar atau Is, dulunya bersahabat baik dengan Bapak Fauzan atau Moek. Tidak ada satu orangpun yang bisa mengerti mereka seperti diri mereka masing-masing. Semua warga kampung Centong juga tau kalau mereka saling melengkapi. Kerap bertengkar, tapi juga selalu saling merangkul. Indah ya? Tapi, seiring semakin dewasa, Moek jauh lebih beruntung untuk bisa melanjutkan sekolah ke pesantren. Sedangkan Is masih tetap tinggal di kampung Centong untuk membantu mengurus gembala kambing. Tidak ada yang menduga bahwa keduanya akan tumbuh dan saling mengadu ilmu. Moek yang belajar tentang Islam lebih luas di pesantren, mengetahui bahwa setiap unsur hidup memang ada unsur agama, termasuk budaya lokal. Moek tau ada beberapa hal yang memang tidak ada di kitab manapun tapi tetap dilakukan oleh para leluhurnya. Walaupun begitu, Moek tak serta merta menggusur dan mendebat para orang tua di Centong yang masih melakukan tradisi tersebut. Berbeda dengan Is, dengan gejolak masa muda dan ilmu yang didapatkan dari gurunya, Cak Ali, ilmu yang juga tidak kalah luasnya, Is cenderung lebih menggebu. Nama Is selalu ada di jajaran pembuat onar kampung karena Is ingin sekali meluruskan pemahaman para orang tua Centong. Ya, kedua laki-laki itu sama jeniusnya. Tapi, apa yang mereka yakini dalam menyikapi sebuah tradisi, sangatlah bertentangan.
**
Sudah terprediksi kalau Moek dan Is tidak akan pernah bicara lagi. Yang satu takut saling singgung, dan yang satunya khawatir akan terjadi debat kusir. Sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk gak saling bicara. Menyapa pun tidak. Hingga masing-masing memiliki keluarga dan memiliki keturunan.
**
Tapi, Tuhan yang Maha Penyayang pun tau, jika kedua Bapak itu saling rindu bercengkrama, rindu berkelahi, dan rindu duduk bersama bersebelahan sambil tertawa lepas seperti masa kanak-kanak. Akhirnya, ditakdirkanlah Miftah--anak Is, dan Fauziah--anak Moek, untuk saling jatuh cinta dan ingin hidup saling mendampingi dunia akhirat. Dan usaha keduanya untuk menikah, tidak hanya menjadi pembuka luka lama kedua Bapaknya, tetapi sekaligus menjadi jalan Tuhan untuk mempersatukan Is dan Moek, dua sahabat karib yang memang sudah saling menyayangi sejak masih ingusan.
**
Buat saya, yang sekarang menjadi orang tua, adalah sebuah tamparan keras ketika membaca bab terakhir buku ini. Buku ini membuat saya reflektif sekaligus yakin bahwa menjadi orang tua adalah sebuah tanggung jawab paling hebat dan terhormat, tapi dengan mendapat gelar "orang tua", bukan berarti membuat saya menjadi nahkoda masa depan anak saya, apalagi sampai nyaris membunuh impiannya. Dan satu lagi, perbedaan lumrah adanya, dimanapun kita berpijak akan selalu ada yang berbeda. Tapi, jangan karena perbedaan itu, kita cenderung ingin terlihat lebih "baik" dari perbedaan yang lain. Apalagi, sampai timbul keinginan meniadakan satu sama lain.
***
View all my reviews
My rating: 4 of 5 stars
Sedikit menyesal ketika buku ini sempat saya tunda untuk dibaca. Ternyata, sesuai ulasan orang-orang di luar sana, buku ini punya daya tarik sendiri. Kisah cinta yang gak biasa, persahabatan Bapak-Bapak kolot yang mengharukan, dan cara pandang seseorang terhadap sebuah keyakinan. Membaca buku ini auranya sama seperti membaca buku-buku Tere Liye, tapi Mahfud Ikhwan membuatnya lebih sederhana dan mengalir.
**
Cerita dibuka dengan kegundahan muda-mudi yang ingin menyempurnakan separuh agama dengan menikah, tetapi terbentur karena beda keyakinan. Bukan, bukan beda agamanya. Tapi, beda keyakinan terhadap Islam. Si perempuan tumbuh di lingkungan Islam Tradisional yang masih sangat menghargai budaya dan kearifan lokal. Si laki-laki dibesarkan dengan sudut pandang yang sangat berbeda, Ia tumbuh di keluarga yang teguh mendirikan Islam Pembaharu tanpa mencampuri budaya setempat. Padahal, tujuan keduanya sama, menganut Tuhan yang sama, dan tentunya, Nabi yang sama. Tapi, semua itu sudah terjadi sejak tahun ‘60an. Tahun di mana Bapak-Bapak mereka masih menuntut ilmu di usia belasan.
**
Bapak Kandar atau Is, dulunya bersahabat baik dengan Bapak Fauzan atau Moek. Tidak ada satu orangpun yang bisa mengerti mereka seperti diri mereka masing-masing. Semua warga kampung Centong juga tau kalau mereka saling melengkapi. Kerap bertengkar, tapi juga selalu saling merangkul. Indah ya? Tapi, seiring semakin dewasa, Moek jauh lebih beruntung untuk bisa melanjutkan sekolah ke pesantren. Sedangkan Is masih tetap tinggal di kampung Centong untuk membantu mengurus gembala kambing. Tidak ada yang menduga bahwa keduanya akan tumbuh dan saling mengadu ilmu. Moek yang belajar tentang Islam lebih luas di pesantren, mengetahui bahwa setiap unsur hidup memang ada unsur agama, termasuk budaya lokal. Moek tau ada beberapa hal yang memang tidak ada di kitab manapun tapi tetap dilakukan oleh para leluhurnya. Walaupun begitu, Moek tak serta merta menggusur dan mendebat para orang tua di Centong yang masih melakukan tradisi tersebut. Berbeda dengan Is, dengan gejolak masa muda dan ilmu yang didapatkan dari gurunya, Cak Ali, ilmu yang juga tidak kalah luasnya, Is cenderung lebih menggebu. Nama Is selalu ada di jajaran pembuat onar kampung karena Is ingin sekali meluruskan pemahaman para orang tua Centong. Ya, kedua laki-laki itu sama jeniusnya. Tapi, apa yang mereka yakini dalam menyikapi sebuah tradisi, sangatlah bertentangan.
**
Sudah terprediksi kalau Moek dan Is tidak akan pernah bicara lagi. Yang satu takut saling singgung, dan yang satunya khawatir akan terjadi debat kusir. Sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk gak saling bicara. Menyapa pun tidak. Hingga masing-masing memiliki keluarga dan memiliki keturunan.
**
Tapi, Tuhan yang Maha Penyayang pun tau, jika kedua Bapak itu saling rindu bercengkrama, rindu berkelahi, dan rindu duduk bersama bersebelahan sambil tertawa lepas seperti masa kanak-kanak. Akhirnya, ditakdirkanlah Miftah--anak Is, dan Fauziah--anak Moek, untuk saling jatuh cinta dan ingin hidup saling mendampingi dunia akhirat. Dan usaha keduanya untuk menikah, tidak hanya menjadi pembuka luka lama kedua Bapaknya, tetapi sekaligus menjadi jalan Tuhan untuk mempersatukan Is dan Moek, dua sahabat karib yang memang sudah saling menyayangi sejak masih ingusan.
**
Buat saya, yang sekarang menjadi orang tua, adalah sebuah tamparan keras ketika membaca bab terakhir buku ini. Buku ini membuat saya reflektif sekaligus yakin bahwa menjadi orang tua adalah sebuah tanggung jawab paling hebat dan terhormat, tapi dengan mendapat gelar "orang tua", bukan berarti membuat saya menjadi nahkoda masa depan anak saya, apalagi sampai nyaris membunuh impiannya. Dan satu lagi, perbedaan lumrah adanya, dimanapun kita berpijak akan selalu ada yang berbeda. Tapi, jangan karena perbedaan itu, kita cenderung ingin terlihat lebih "baik" dari perbedaan yang lain. Apalagi, sampai timbul keinginan meniadakan satu sama lain.
***
View all my reviews
Comments
Post a Comment