Sabtu Bersama Bapak

Coba, sebutkan novel terakhir yang kamu baca tentang cinta keluarga? Kalau kamu sudah lupa kapan terakhir baca novel yang isinya tentang cinta keluarga atau orang tua, saya saranin kamu baca salah satu novel Adhitya Mulya yang berjudul "Sabtu Bersama Bapak". Bloody serious. Kenapa? Novel ini lihai sekali mengaduk-aduk perasaan saya, beberapa lembar pertama, saya serius ngamatin karakter dan setingnya, beberapa lembar selanjutnya saya mulai terbawa kekonyolan si penulis yang menuliskan segala hal apa adanya, tiba-tiba di lembar-lembar seterusnya saya nangis karena dialog sederhana beberapa tokoh utama yang ngena banget di hati. Jadi, kegiatan membolak-balikan lembaran novel ini ya kaya orang gila! Bisa tiba-tiba ketawa cekikikan, bisa tiba-tiba nangis gak karuan sampe sesenggukan. That's why membaca novel ini di angkot bukanlah hal yang amat saya anjurkan.
goodreads.com

So, sesungguhnya novel ini amat sangat tidak saya rekomendasikan....untuk dibaca di tempat-tempat umum; angkot, halte bus, sekolah, ruang tamu (disaat banyak orang), teras rumah, taman tengah kota, dll. Amat sangat saya rekomendasikan untuk dibaca di kamar sendiri, di kamar mandi sendiri, di taman komplek rumah yang sepi, atau tempat-tempat privat favorit kamu.

Hal pertama yang membuat saya tertarik dengan novel ini adalah judulnya. Judulnya sederhana, tapi bermakna, "Sabtu Bersama Bapak". Coba, kapan terakhir kali kamu menghabiskan hari Sabtu sama Bapak? Saya bahkan juga gak akan bisa jawab pertanyaan ini. Dan sejujurnya, novel ini sudah saya masukkin ke dalam bagian to-read di Goodreads saya sejak lama, cuma karena terlalu tergoda sama novel-novel lain yang nyastra banget, akhirnya saya tunda-tunda terus buat beli novel ini. Dan ketika setahun setelah Bapak saya berpulang ke Yang Maha Kuasa dan saya baru saja menikah, saya lihat novel ini lagi di toko buku. Voila! Gak pake basa basi lagi, langsung saya bawa ke kasir untuk saya bayar dan bawa pulang.

Di novel ini bercerita tentang sebuah keluarga kecil. Bapak, Mamah, dan dua anak laki-laki mereka, Satya dan Cakra. Keluarga kecil itu selalu rukun, harmonis, penuh kehangatan, dan kasih sayang. Sang Bapak adalah sosok imam keluarga yang selalu jadi panutan. Sang Mamah adalah wanita yang punya cinta dan sabar seluas samudera. Kedua anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, cerdas, dan hormat sama orang tua. Satya, si kakak, sudah menikah dan punya tiga anak, tinggal di sebuah kota kecil di Denmark. Cakra, si bungsu, menjabat sebagai Deputy Director di salah satu bank asing yang ada di Jakarta. Berbeda dengan Cakra, Satya lebih keras sifatnya, dia juga menuntut kesempurnaan dari istri dan anak-anaknya, karena sejak kecil ia adalah anak sulung dan ia merasa punya kewajiban untuk jadi panutan bagi si bungsu. Padahal, Pak Gunawan, sang Bapak, berpesan "Menjadi panutan adalah tugas semua orang tua untuk semua anak", bukan tanggung jawab si sulung. Akhirnya, dengan nasihat-nasihat yang ada di video bapak, Satya kembali belajar untuk menjadi suami dan ayah yang baik, bahkan jauh lebih baik dari Pak Gunawan sendiri.

Cerita diawali dengan kegiatan Pak Gunawan, si bapak, yang ingin merekam video berupa pesan untuk Satya dan Cakra. Pak Gunawan berniat buat bikin video itu karena beliau divonis dokter hanya bisa hidup satu tahun karena satu penyakit kronis, jadi, dengan rekaman-rekaman yang beliau buat, beliau bisa terus kasih nasihat dan cerita pengalaman beliau ketika baru menjadi seorang suami dan seorang bapak pada Satya dan Cakra. Jadi pada intinya adalah setiap kejadian yang dialami Satya dan Cakra, pasti disisipin nasihat sang Bapak. Setiap mereka mentok sama satu masalah, entah masalah pekerjaan atau keluarga, mereka pasti langsung nonton video dari bapak.  Mereka sudah rutin nonton video pesan-pesan sang Bapak dari kecil. Dan mereka selalu nonton video itu di Sabtu sore. Nah, paham kan kenapa dikasih judul "Sabtu Bersama Bapak?". Hebatnya, Pak Gunawan memang sudah nyiapin pesan-pesan yang dibuat sesuai usia mereka. Jadi, ada pesan untuk Satya dan Cakra yang masih belasan tahun, lalu ada yang dibuat untuk usia 20an, 30an, dan berakhir di pesan-pesan untuk si anak yang mau menikah.

salsabilaa.tumblr.com


Novel ini gak hanya cocok untuk "iseng-iseng" buat isi waktu luang. Ceritanya juga gak melulu soal sayangnya si Bapak ke keluarganya. Seperti yang Adhitya Mulya bilang, "Buku ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pria yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi suami. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka".

p.s: sebelumnya saya juga sudah tulis resensi singkat di Goodreads saya dan di like sama kang Adhitya Mulya-nya sendiri. Hatur Nuhun, Kang!





 post signature

Comments

Popular posts from this blog

Laki-Laki yang Kawin dengan Peri dan 16 Cerita Pendek Lainnya di Tahun 1995

lady in action

It's Cormoran Strike era!