Kekasihmu Bercerita...

Agus Noor. Sastrawan Indonesia pertama yang mengenalkan saya pada keindahan dari roman kesedihan, kehilangan, rasa tersakiti, ditinggalkan, ah...masih banyak lagi. Beliau kerap menimbulkan rasa khawatir pada  semua pembaca yang menikmati karyanya. Khawatir entah karena terlalu takut untuk mengakhiri atau khawatir karena tidak ingin terlalu lama tertambat pada satu cerita.
"Cerita Buat Para Kekasih", judul klise ini kemarin menjadi salah satu buku teranyar karangan Agus Noor yang dirilis Gramedia pada November 2014. Sebenarnya, kumpulan cerita yang ada di dalamnya adalah semua cerita beliau yang pernah diposting di blog pribadinya. Saya memang sudah baca beberapa tulisan beliau di blog pribadinya. Tapi, rasa penasaran untuk menelanjangi buku ini terus-terusan menghantui saya sejak buku ini rilis.
Ironi kesedihan, rasa sakit, dan perasaan miris mendominasi buku yang bercover putih-ungu ini. Agus Noor memang bukanlah tipikal penulis yang menjual akhir cerita bahagia. Mungkin beliau menganut paham "hidup itu getir, gak melulu soal aku dan kamu jadi satu".
https://agusnoorfiles.wordpress.com/

Dari 31 cerita yang ditawarkan, ada tiga cerita yang sering saya baca berulang-ulang, bukan karena tidak paham inti ceritanya, tapi karena perasaan yang muncul sewaktu membacanya... Cerita pertama favorit saya adalah "Gerimis dalam E minor", masih sama, bercerita tentang kehilangan, and one of my fave line adalah Kesedihan memang terasa lebih pedih dalam ingatan. Tahukah kau, gerimis menjadi lebih menyedihkan, saat kau tak ada. Itu! Yang membuat saya bolak-balik baca cerita itu. Lalu, cerita lain yang juga menghipnotis saya untuk baca ulang adalah "Kalung", cerita ini tentang laki-laki dan perempuan yang gak bisa nikah karena beda keyakinan. Sounds cliche, tapi Agus Noor membuat ceritanya menjadi seratus kali lipat lebih indah daripada cerita putri-pangeran yang akhirnya hidup bahagia. Akhir cerita "Kalung" gak bisa dibilang happy ending, tapi dibilang sad ending pun salah. Tergantung bagaimana pembaca memutuskannya.
Cerita terakhir favorit saya, yang memang ada di halaman terakhir, adalah "Memorabilia Kesedihan", ini benar-benar brilian! Don't expect something like cerita gadis yang meratapi nasib ditinggal kekasihnya, atau cerita-cerita sedih fiktif kebanyakan. Ini cerita tentang saudara kembar yang terpisah kematian, yang mana yang mati? You decide! Di setiap kalimatnya, semua membicarakan kesedihan, hampa, kekosongan, tapi dibuat amat sangat classy.

Bagi saya, buku ini dibuat untuk yang benar-benar ingin mencari keindahan dari kesedihan, seakan Agus Noor selalu tahu kalau kesedihan gak seharusnya disingkirkan, karena pasti ia kembali. Cara membuang kesedihan bukan dengan menghilangkan rasa sedih itu sendiri, tapi cobalah bersahabat dengannya. Rasakan kesedihan dan kehilangannya. Seperti yang beliau tuliskan, "Dan seperti ombak yang gelisah itu, bagi yang kehilangan, hidup hanya untuk menanggung kesunyian yang datang berulang-ulang".

post signature

Comments

Popular posts from this blog

Laki-Laki yang Kawin dengan Peri dan 16 Cerita Pendek Lainnya di Tahun 1995

lady in action

It's Cormoran Strike era!