book-review: THE CASUAL VACANCY
wah, long time no blogging! how are you guys doin' out there?just keep doing good for you and universe :)
anyway, saya cuma mau posting dan me-review satu buku bagus yang diterbitkan oleh Mizan Publishing pada akhir taun ini. Well, as I said to myself, it's not a book, not a novel, it's a masterpiece. Yap! Jo Rowling's new masterpiece called THE CASUAL VACANCY.
Buku yang sampulnya didominasi warna merah dan kuning ini benar-benar menghipnotis hari-hari membosankan saya. Awal beli buku ini, saya gak pernah ada niatan untuk baca semuanya dalam waktu satu minggu. Tapi, apalah daya karena terlalu terbawa emosi cerita, jadi dalam waktu enam hari, saya sudah menamatkan semua chapternya. Seneng! Tapi nyesel juga. Rasanya gak ikhlas gitu ya kalo baca buku bagus, seru, klimaks, terus puff....selesai. Well, that's my confession about that book, and I definitely wanna see yours!
Buku ini diawali dengan satu peristiwa tragis di kota kecil yang indah terawat bernama Pagford. Di suatu malam, kota mungil ini gempar oleh berita meninggalnya salah satu dewan kota yang amat disegani penduduk Pagford, beliau bernama Barry Fairbrother. Dengan meninggalnya dewan kota, maka terjadilah kekosongan jabatan (casual vacancy) di sistem pemerintahan kota tersebut. Lalu perlahan, bukan hanya konflik politik yang timbul akibat peristiwa tersebut, banyak juga konflik lain yang muncul, seperti permasalahan antar keluarga, teman, sahabat, pasangan suami-istri, yang memang ada hubungannya dengan peran Barry di kehidupan mereka. Barry sendiri digambarkan sebagai tokoh bijak yang peduli terhadap penduduk Pagford dan Fields, salah satu kawasan yang menjadi permasalahan utama dalam konflik politik Pagford.
Setelah meninggalnya Barry, ada beberapa orang yang mencalonkan diri mereka untuk menggantikan Barry Fairbrother, diantaranya Miles Mollison, Collin Wall, dan Simon Price. Pencalonan diri mereka bukan tanpa kontroversi, bahkan orang-orang yang ingin menentang mereka untuk menggantikan Barry adalah salah satu dari anggota keluarga mereka sendiri!
As I mentioned before, konflik yang ada bukan hanya konflik politik, banyak konflik rumah tangga yang menjadi bahan pokok dari bacaan buku ini. Konflik percintaan? Pasti ada! Tapi pada akhirnya, semua konflik ini saling berkaitan, bertautan, dan berakhir di sebuah pemakaman *spoiler*.
Cara Jo Rowling mendeskripsikan setiap karakter, latar, setting, dan adegan, as usual, totally perfect dan mendetail. Rasanya semua karakter di cerita ini nyata dan hidup, bukan fiktif. Gaya menulisnya juga gak berubah, tetap khas Rowling. Satu-satunya yang bikin saya amazed adalah caranya menuliskan setiap isi dari fikiran masing-masing karakter. Kalo dulu di Harry Potter, kebanyakan Rowling selalu mendeskripsikan isi fikiran Harry, nah di The Casual Vacancy ini, dia menuliskan fikiran dari 8 karakter, malah lebih, dan semua feels so alive.
Menurut saya, pesan moral yang bisa saya dapat setelah baca buku ini adalah setiap karakter manusia itu gak ada yang benar-benar "putih" atau benar-benar "hitam", semua abu-abu, semua punya sisi baik dan jahat. Kalo dilihat lebih jelas lagi, Harry Potter juga sama, Dumbledore gak selamanya "putih", masa lalunya juga "hitam"kan?
So, buku ini adalah perpaduan sempurna antara fiktif dan nyata. Buat saya, buku ini kefiktifannya terlalu nyata!
![]() |
| http://kaskushotthread.net/thread/ini-dia-novel-terbaru-jk-rowling |
Buku yang sampulnya didominasi warna merah dan kuning ini benar-benar menghipnotis hari-hari membosankan saya. Awal beli buku ini, saya gak pernah ada niatan untuk baca semuanya dalam waktu satu minggu. Tapi, apalah daya karena terlalu terbawa emosi cerita, jadi dalam waktu enam hari, saya sudah menamatkan semua chapternya. Seneng! Tapi nyesel juga. Rasanya gak ikhlas gitu ya kalo baca buku bagus, seru, klimaks, terus puff....selesai. Well, that's my confession about that book, and I definitely wanna see yours!
Buku ini diawali dengan satu peristiwa tragis di kota kecil yang indah terawat bernama Pagford. Di suatu malam, kota mungil ini gempar oleh berita meninggalnya salah satu dewan kota yang amat disegani penduduk Pagford, beliau bernama Barry Fairbrother. Dengan meninggalnya dewan kota, maka terjadilah kekosongan jabatan (casual vacancy) di sistem pemerintahan kota tersebut. Lalu perlahan, bukan hanya konflik politik yang timbul akibat peristiwa tersebut, banyak juga konflik lain yang muncul, seperti permasalahan antar keluarga, teman, sahabat, pasangan suami-istri, yang memang ada hubungannya dengan peran Barry di kehidupan mereka. Barry sendiri digambarkan sebagai tokoh bijak yang peduli terhadap penduduk Pagford dan Fields, salah satu kawasan yang menjadi permasalahan utama dalam konflik politik Pagford.
Setelah meninggalnya Barry, ada beberapa orang yang mencalonkan diri mereka untuk menggantikan Barry Fairbrother, diantaranya Miles Mollison, Collin Wall, dan Simon Price. Pencalonan diri mereka bukan tanpa kontroversi, bahkan orang-orang yang ingin menentang mereka untuk menggantikan Barry adalah salah satu dari anggota keluarga mereka sendiri!
As I mentioned before, konflik yang ada bukan hanya konflik politik, banyak konflik rumah tangga yang menjadi bahan pokok dari bacaan buku ini. Konflik percintaan? Pasti ada! Tapi pada akhirnya, semua konflik ini saling berkaitan, bertautan, dan berakhir di sebuah pemakaman *spoiler*.
Cara Jo Rowling mendeskripsikan setiap karakter, latar, setting, dan adegan, as usual, totally perfect dan mendetail. Rasanya semua karakter di cerita ini nyata dan hidup, bukan fiktif. Gaya menulisnya juga gak berubah, tetap khas Rowling. Satu-satunya yang bikin saya amazed adalah caranya menuliskan setiap isi dari fikiran masing-masing karakter. Kalo dulu di Harry Potter, kebanyakan Rowling selalu mendeskripsikan isi fikiran Harry, nah di The Casual Vacancy ini, dia menuliskan fikiran dari 8 karakter, malah lebih, dan semua feels so alive.
Menurut saya, pesan moral yang bisa saya dapat setelah baca buku ini adalah setiap karakter manusia itu gak ada yang benar-benar "putih" atau benar-benar "hitam", semua abu-abu, semua punya sisi baik dan jahat. Kalo dilihat lebih jelas lagi, Harry Potter juga sama, Dumbledore gak selamanya "putih", masa lalunya juga "hitam"kan?
![]() |
| pre-order in Leksika Kalibata City |
So, buku ini adalah perpaduan sempurna antara fiktif dan nyata. Buat saya, buku ini kefiktifannya terlalu nyata!


Comments
Post a Comment